Jumat, 10 Mei 2013


MAKAM MBAH AGENG


Bangunan yang selintas mirip rumah di atas sejatinya merupakan makam mbah Ageng Mangli yang letaknya di Desa Manggis Ngancar Kabupaten Kediri. Rumah ini hanya berisi sebuah makam saja. Makam ini dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai tempat yang membawa berkah. Tempat ini sering dijadikan sebagai tempat sadranan oleh masyarakat sekitar maupun luar wilayah Desa Manggis.
Mbah Toegiman(83th) adalah juru kunci dari makam Mbah Ageng. Menurut masyarakat sekitar mbah Ageng dipercaya sebagi orang yang berpengaruh dari Dusun Sumber Urip Desa Manggis Kec. Ngancar Kab. Kediri. Sebagai tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat sekitar, makam mbah Ageng tak pernah sepi dari Ziarah para orang-orang yang mempercayainya. Tempat ini sering digunakan sebagai tempat sadranan oleh masyarakat ketika ada hajad yang akan dilaksanakan. Biasanya mereka membawa nasi berkat yang sering disebut ambengan oleh masyarakat sekitar. Hajad mereka macam-macam, ada hajad mau khitanan, nikahan dan apa saja. Mereka datang untuk berdoa dan tahlilan bersama-sama dengan keluarganya yang didampingi oleh sang juru kunci sendiri. Adapula orang mengalami kesusahan atau terjadi musibah, kemudian melakukan doa di makam tersebut sehingga lancer urusannya.
            Bukan hanya masyarakat sekitar saja yang datang ke mbah Ageng, banyak juga dari luar wilayah yang datang ke tempat tersebut. Tiap malam jumat Legi yang paling banyak orangnya atau malam jumat yang lain juga sering datang. Tergantung kebutuhan masing-masing. Makam tersebut terletak di tengah-tengah perkebunan tebu milik Pabrik Ngadirejo. Makam berbentuk rumah yang terdiri dari dua kamar dan ada pohon beringin yang besar di depan rumah. Meskipun jauh dari pemukiman namun tidak terkesan horror seperti tempat-tempat yang dikeramatkan lainnya.
            Menurut Mbah Toegiman, mbah Ageng adalah sosok seorang pejuang pada masa kolonial Belanda dulu, beliau adalah salah satu dari Laskar Diponegoro. Dulunya beliau lari dari kejaran penjajah. Di Desa Jagul, terdapat dua makam satu laki-laki dan perempuan, makam tersebut yang perempuan adalah istri dari mbah Ageng sedangkan makam satunya hanya berisi tikar dan bantal dan diakukan sebagai makam mbah Ageng. Makam tersebut bertujuan agar disangka Mbah Ageng sudah meninggal bersama istrinya untuk mengelabui musuh. Kemudian Mbah Ageng melanjutkan pelariannya dan beliau akhirnya mennggal di Dusun Sumber Urip di Desa Manggis. Beliau juga merupkan ulama yang membawa ajaran agama islam ke desa tersebut.
            Mbah Toegiman ketika sebelum menjadi juru kunci beliau bermimipi untuk menjaga makam tersebut, akhirnya sampai sekarang beliaulah yang menjadi penjaga tempat tersebut. Beliau bertugas menemani orang yang berziarah dan membersihkan tempat tersebut.

Feature Oleh: Friska Faradilla

Tidak ada komentar:

Posting Komentar