Jumat, 03 Mei 2013



Buruh Rosok Pengelupas Tutup Aqua yang Mampu Menguliahkan Anaknya Sampai S1


Wajahnya selalu tampak gembira, tak pernah ia  terlihat perasaan sedih. Senyum ramah dan wajah riang selalu ia perlihatkan kepada semua orang. Tak pernah ia meminta belaskasihan kepada orang lain. Hari-harinya ia jalani dengan penuh semangat. Tak pernah ia mengeluh apalagi berputus asa. Ia selalu menjalankan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh, meskipun banyak orang mengatakan pekerjaan itu sangat rendah. Bagi ia apapun pekerjaannya, harus selalu dijalankan dengan sebaik mungkin.
Ya inilah sekilas sosok Suminah yang bekerja sebagai pengelupas tutup aqua di Desa Bedali Kec. Ngancar Wates. Suminah adalah seorang ibu berumur 64 tahun yang mempunyai 4 orang anak. Keempat anaknya adalah Khalida, Rozaq, Habibah dan Rowi. Adapun suami dari Suminah adalah Wawan, yang sudah meninggal 10 tahun menderita penyakit jantung.
Suminah rela menjadi pekerja rosok demi mencukupi semua kebutuhan hidup keluarganya. Mulai dari makanan yang dimakan setiap harinya, biaya untuk beli pakaian, biaya untuk sekolah keempat anaknya, dll,  semuanya ditanggung oleh Suminah. Walaupun penghasilan yang di dapat oleh Suminah tiap harinya tak seberapa.
Suminah bekerja di sebuah rosok milik Bu Nuur yang ada di Ngancar. Setiap hari, Suminahi harus menempuh jarak 4 kilometer dengan berjalan kaki untuk sampai ketempat bekerjanya. Biasanya Suminah berangkat kerja dari rumah jam 07.00 WIB, sampai tempat bekerjanya sekitar jam 08.00 WIB. Sehingga untuk menempuh jarak 4 kilometer, Suminah harus menggunakan waktunya kurang lebih satu jam.
Suminah pulang dari tempat bekerjanya sekitar jam 17.30 WIB. Sesampainya dirumah, kadang Suminah tidak langsung istirahat, melainkan mencari tambahan uang untuk memenuhi kebutuhannya. Pekerjaan dirumah tidak tetap, kadang Suminah ikut buruh sebagai pengelupas buah nanas di rumah produksi nanas milik Pak Narko.
Pekerjaan Suminah yang dapat dikatakan tetap adalah bekerja di rosok. Suminah bekerja dirosok mulai tahun 1987, hingga sekarang tahun 2013, Suminah pun masih bekerja di rosok tersebut. Sehingga Suminah bekerja di rosok dengan mengelupasi tutup aqua kurang lebih sudah 26 tahun.
Suminah mendapatkan bayaran sesuai dengan jumlah aqua yang sudah dikelupas. Satu kilo aqua dihargai 900 rupiah. Sehingga setiap harinya Suminah bisa mengelupasi  kurang lebih 15 kilo aqua. Ketika stok aqua habis, kadang Suminah mengerjakan pekerjaan yang lain seperti mecah ember, memisahkan bahan putihan dan bahan yang hitam.
Dengan bayaran yang tak seberapa, tetapi Suminah mampu menyekolahkan anak-anaknya. Anak yang pertama sampai ketiga semuanya lulus SMP dan sekarang Suminah sedang menyekolahkan anaknya yang terakhir kejenjang Strata Satu(S1). Suminah menginginkan anak terakhirnya yang bernama Rowi bisa sukses seperti orang-orang yang sudah berhasil.
“Opo ae arep tak lakoni mbak, gawe nyekolahke anakku, supoyo dadi wong sing pinter, sukses, uga manut karo wong tuwo” itu adalah sedikit penggalan kata-kata dari Suminah. Suminah selalu bekerja keras demi menyekolahkan anaknya, khususnya Rowi.
Sekarang ini Rowi menjadi harapan Suminah satu-satunya, untuk menjadi anak yang berhasil. Karena kelak Rowi yang akan mengurus Suminah. “Sakniki kulo mung due pangarep-arep kaleh Rowi supoyo dadi wong sukses, ugo biso ngopeni wong tuwone, amergo kakang-kakangne wis do nduwe gawe dewe-dewe”, begitulah kata Suminah.
Begitu besar Suminah menaruh harapan kepada Rowi agar menjadi orang yang sukses. Karena menurut Suminah, jika anaknya sukses, hidupnya dimasa tua pun menjadi enak. Budaya didesanya pun masih dipegang teguh oleh Sumarmi. Menurut budayanya anak terakhirlah yang kelak akan mewarisi rumahnya. Selain itu anak terakhirlah yang kelak akan merawat orang tuanya semasa tua nanti.
“Kulo seneng, amergo sakniki kulo saget nyekolahke anak kulo sing terakhir”, kata Suminah. Walaupun Suminah hanya menjadi pekerja rosok, ia tetap bangga, tak merasa malu dengan pekerjaannya. Bagi Suminah apapun pekerjaannya, yang penting halal , barokah dan menjadi manfaat untuk keluarganya.

Feature Oleh: Ida Ani'matillah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar