Kamis, 16 Mei 2013


Sejarah Dusun Sumberbendo
Desa Sidomulyo merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Wates Kabupaten Kediri Jawa Timur. Di desa Sidomulyo terdapat salah satu nama dusun bernama dusun Sumberbendo. Dusun ini merupakan dusun terbaru di desa Sidomulyo. Dusun ini memiliki latar belakang berdiri yang unik dan mengandung nuansa mitos.
Awalnya Desa Sidomulyo terdiri atas tiga dusun, yakni dusun Kalen, dusun Boto, dan dusun Winong. Di desa Sidomulyo terdapat sebuah pondok (pesantren) milik H.Abdul Majid bernama pondok Darussalam. Di pondok tersebut terdapat sebuah masjid, bernama Darussalam. Jamaah di Masjid Darusalam terbilang banyak saat itu. Dari pondok dan masjid tersebut yang menjadi awal berdirinya yayasan Darul Falah Kecamatan Wates Kabupaten Kediri saat ini.
Namun kemudian H.Abdul Majid meninggal dunia selaku pengasuh sekaligus pemiliki pondok. Setelah H.Abdul Majid meninggal, tongkat estafet kepemimpinan diserahkan kepada putrinya yang bernama Ruqoyah (mbah Ruqoyah). Ia kemudian menjadi pengasuh pondokmenggantikan ayahnya bersama suaminya H.Tohir.
Suatu hari mbah Ruqoyah memiliki ide untuk membuka suatu wilayah. Hal tersebut dikarenakan jamaah di masjid Darusalam teramat banyak sehingga masjid kurang dapat menampung. Atas ide mbah Ruqoyah dan disetujui suaminya haji Tohir, mereka memprakarsai perlu diadakan perluasan wilayah di daerah dusun Kalen. Perluasan tersebut menuju ke daerah selatan dan barat dari dusun Kalen. Namun di sini keunikan terjadi, mbah Ruqoyah dan Haji Tohir tidak melaksanakan kegiatan itu sendiri, ia ingin memilih salah satu santrinya untuk membuka wilayah tersebut.
Mbah Ruqoyah kemudian berdiskusi dengan suaminya Haji Tohir. Setelah melalui proses diskusi terpilihlah salah satu santri mereka bernama Bunder (mbah Bunder). Ia didapuk menjadi seseorang yang akan melaksanakan ide tersebut karena dianggap santri yang termasuk kuat secara agama. Selain itu agar ia dapat memperluas dakwah islam ke daerah baru tersebut.
Setelah terpilih, mbah Bunder meminta doa restu kepada mbah Ruqoyah dan haji Tohir (pengasuh pondok) untuk membabat (membuka) alas (hutan)di daerah yang diperintahkan oleh pengasuh pondok tersebut. Mbah Bunder mulai mempersiapkan diri membuka alas dengan bertapa di sumber (mata air). Saat itu alas yang akan dibabat, kondisinya masih berupa kawasan yang sangat lebat dengan banyak terdapat tumbuhan bambu serta hewan liar lainnya. Saat akan bertapa itu pula mbah Bunder merasa terperangah melihat terdapat sumber air muncul dari dalam tanah. Hal tersebut merupakan suatu pemandangan yang sangat indah.
Pada saat bersemedi di sumber utara, mbah Bunder ditemui oleh seekor Ular besar. Ular tersebut menyuruh mbah Bunder pergi ke sumber yang satunya (selatan) untuk perihal izin membuka alas. Kemudian mbah Bunder pergi ke sumber selatan. Di sana  ia bertemu dengan macan (harimau). Macan tersebut menanyakan maksud kedatangan mbah Bunder. Macan tersebut akhirnya menyuruh mbah Bunder untuk kembali ke sumber utara dan memenuhi persyaratan yang diajukan oleh penunggu sumber utara.
Sesampainya di sumber utara, ular tersebut menyetujui permintaan mbah Bunder untuk membuka alas di daerah tersebut (membabat alas). Namun sebelum itu Ular memberi persyaratan kepada mbah Bunder, yakni keturunan mbah Bunder dan juga warga yang akan menempati tempat tersebut tidak boleh membuat makam di alas yang akan dibabat untuk kemudian dijadikan wilayah tersebut. Dengan demikian hingga saat ini setiap ada keturunan mbah Bunder atau warga desa Sumberbendo yang meninggal harus dimakamkan di pemakaman Kalen dan sekitarnya.
Setelah itu mbah Bunder mulai membabat alas dengan bantuan santri pondok yang lainnya. Di tempat di mana mbah Bunder membabat alas tersebut, dibangunlah sebuah tempat tinggal. Di tempat tinggal tersebut dibangun sebuah masjid, yang kini nama masjid tersebut bernama masjid Baitul Mamur.
Nama sumberbendo sendiri diambil dari dua sumber yang ada di dusun tersebut. Di sekitar sumber tersebut juga terdapat cukup banyak pohon bendo. Sehingga mbah Bunder menamakan dusun tersebut dengan nama Sumberbendo. Begitulah asal muasal dusun Sumberbendo kecamatan Wates kabupaten Kediri.


Haji Abdul Majid merupakan mbah yut dari narasumber.
Yayasan Darul Falah merupakan yayasan yang dikelola keluarga besar narasumber.
Feature Oleh: Dwi Ningrum

Rabu, 15 Mei 2013



Longsor Akibatkan Saluran Air Terhambat
Kamis 18 April 2013, hujan deras yang disertai angin kencang yang mengakibatkan longsor di Desa Satak, Kecamatan Puncu, Jawa Timur sehingga saluran air yang selama ini menjadi sumber kehidupan bagi warga Desa Satak menjadi terganggu.
Menurut warga di sekitar kejadian, longsor terjadi pada pukul 14.30 (sore hari). Saat itu pipa saluran air tertimpa oleh pohon besar. Sehingga warga dan beberapa anggota KKN UNP Kediri yang kebetulan menjalankan Kuliah Kerja Nyata di Desa Satak ikut membantu menyambung pipa saluran air ,agar warga Desa Satak bisa kembali mendapatkan air dengan lancar. Karena sudah lima hari berturut turut warga Desa Satak resah kekurangan air.
 Menurut Bapak Waloyo salah satu warga Desa Satak mengatakan bahwa saat longsor terjadi tidak ada satupun korban, karena letaknya jauh dari pemukiman. Warga Desa Satak berharap agar saluran air segera tersambung, karena peranan air sangat penting untuk kegiatan sehari-hari terutama Desa Satak yang sebagian penduduknya petani dan peternak.
Berita Oleh: Fitri Ariani


Senin, 13 Mei 2013



Sumber Banteng, Sumber Kehidupan Masyarakat

Di selatan desa Sempu terdapat mata air yang menjadi sumber kehidupan karena disaat PDAM rusak banyak masyarakat sekitar yang mengambil air di tempat tersebut. Warga sekitar menamkan tempat tersebut dengan sumber banteng.
Pemberian nama Sumber banteng tidak terlepas dengan kejadian yang pernah terjadi ditempat tersebut. Dulu tempat tersebut digunakan banteng untuk minum, meskipun didaerah sekitarnya kekeringan tapi sumber mata air tersebut tidak pernah kering padahal sumber mata airnya kecil.
Sebelum ada PDAM sumber banteng sangat membantu warga dalam pemenuhan kebutuhan air bersih di desa sempu, sampai warga desa menyebut sumber banteng sebagai sumber kehidupan masyarakat. Sampai sekarang banyak warga desa yang masih mengambil air dan mandi di sumber banteng karena pasokan air dari PDAM tidak bisa memenuhi kebutuhan air bersih.
Heri (28), Banyak warga yang mempercayai kalau di sumber banteng terdapat kekuatan magis. hal ini pernah menimpa pemuda sempu. Kejadian itu bermula saat pemuda tersebut merusak patung sapi yang terdapat di sumber banteng, beberapa hari kemudian pemuda tersebut mati dirampok disebelah sumber banteng, sampai sekarang pembunuhnya tidak ditemukan.

“waktu itu ada pemuda merusak patung sapi yang ada, dan beberapa hari setelah itu pemuda tersebut mati dirampok” ungkapnya.
Pembangunan patung yang ada di sumber banteng terjadi karena tragedi yang menimpa mahasiswa KKN yang berasal dari IKIP PGRI Kediri tahun 1997, mahasiswa tersebut bernama Qomariyah (21). Pada waktu itu, mahasiswa tersebut sedang menstruasi dan tidak mengetahui kalau wanita yang sedang menstruasi tidak boleh mandi atau masuk ke sumber banteng.
Setelah pulang dari Sumber Banteng Mahasiswa tersebut langsung kesurupan ketika sampai di posko KKN, teman-teman sekelompok bingung dan memanggil Dosen Pembimbing KKN. Karena Dosen Pembimbing KKN juga tidak mengatasi akhirnya masalah tersebut di pasrahkan kedesa, oleh desa dipasrahkan ke sesepuh desa sempu.
Sesepuh desa akhirnya melakukan mediasi dengan makhluk yang merasuki mahasiswa tersebut, dan makhluk tersebut mau keluar apabila dikorbankan seekor sapi. Permintaan tersebut disanggupi sesepuh desa, dan akhirnya dibuatkan patung sapi beserta penggembalanya sebagai ganti sapi tersebut.
Sampai sekarang patung sapi tersebut masih ada dan terawat dengan baik, untuk mengantisipasi kejadian yang pernah menimpa mahasiswa tadi Warga sekitar selalu menginatkan kepada Warga pendatang kalau sedang menstruasi tidak boleh ke sumber banteng.

Feature Oleh: Fitria Nuris Sholikah 4B (09.1.01.07.0069)

Antusias Warga Dengan Adanya KKN

Kediri, Peserta KKN Kelompok 07 di Desa Sempu mendapatkan dukungan dari masyarakat sekitar. Rabu (10/04/2013) pemuda karang taruna berbondong-bondong ke posko KKN untuk membantu papan nama jalan yang menjadi program peserta KKN. Pukul 08.00Sekitar 40 pemuda yang merapat ke Posko.
Hal ini berkat komunikasi peserta KKN dan Karang taruna terjalin dengan baik. Dukungan ini merupakan salah satu pemicu berhasilnya program KKN yang dibawa peserta KKN ke Desa Sempu.
“Saya siap membantu pelaksanaan program KKN yang direncanakan sesuai dengan kapasitas saya sebagai ketua karang taruna” ungkap Heri Setiawan Selaku Ketua Karang taruna Desa Sempu.
Desa sempu sebelumnya juga sering digunakan untuk tempat KKN dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Malang maupun dari Kediri. Sehingga masyarakat berantusias jika ada mahasiswa yang KKN di desa Sempu.
Eko (25), salah satu pemuda berharap dengan adanya program KKN memicu semangat pemuda desa untuk menuntut ilmu sampai keperguruan tinggi. Karena SDM di Desa Sempu terhitung masih rendah.
“Saya berharap dengan adanya Program KKN ini bisa memicu minat pemuda untuk menuntut ilmu sampai ke perguruan tinggi” ungkapnya.
Sugianto (48), Kepala desa Sempu juga berharap kepada Mahasiswa yang KKN untuk bisa menyatu dengan masyarakat desa sempu sehingga terjalin hubungan yang harmonis, dan mahasiswa KKN bisa nyaman di desa Sempu.
“Mahasiswa hendaknya bisa membawa masyarakat ke arah yang lebih baik dalam berpikir, dan bisa menyatu dengan warga” tandasnya.
Keberhasilan pelaksanaan Program KKN tidak terlepas dengan adanya partisipasi warga yang sangat antusias.

Berita Oleh: Fitria Nuris Sholikah 4B (09.1.01.07.0069)

Minggu, 12 Mei 2013

Selamatan Giling PG Pesantren Baru
Dalam rangka selamatan Giling Pabrik Gula Pesantren Baru tahun 2013 yang dilakukan di desa Ploso kidul- Plosoklaten ini diadakan dengan sangat meriah. Diantaranya dengan diadakannya lomba-lomba seperti lomba fashion show, lomba tiup balon, lomba joget, dan penampilan tari jaranan dan sekarwilis dari siswa-siswi TK/SD Plosokidul kecamatan Plosoklaten. Acara selamatan giling P.G. Pesantren Baruini diadakan rutin tiap tahun. Dalam perlombaan-perlombaan ini diadakan hadiah menurut juara 1, 2, 3, dan 4. Untuk lomba joget dan tiup balon hadiahnya adalah berupa peralatan sekolah. Sedangkan untuk perlombaan fashion show ini diambil juga juara 1, 2, 3, 4, dan hadiah dalam lomba fashion show ini adalah tropi. Dimana yang memberikan hadiah ini juga dari P.G. Pesantren Baru desa Plosokidul-Plosoklaten.Acaraini melibatkan semua perangkat desa Plosokidul dan semua warga desa Plosokidul. Terutama P.G. Pesantren Baru desa Plosokidul-Plosoklaten. Pak Suciptodari P.G. Pesantren Baru salaku pegawai dari pabrik gula tersebut dan sebagai panitia penyelenggaraan diadakannya selamatan ini. Bu Anti adalah kakak dari pak Sucipto, sebenarnya beliau asli dari plosokidul. Karenaikut suami, jadi beliau tinggal di Burengan.Biasanya acara ini dilakukan di P.G. Pesantren Baru sendiri, tapi tahun ini di adakan di balai desa yang dekatdengan P.G. Pesantren Baru tersebut. (Pak Yudi)
Sebenarnya di desa Plosokidul itu ada sebuah paguyuban ketoprak yang dipimpin oleh pak Lelor. Tapi paguyuban itu bukan asli dari desa itu melainkan paguyuban pendatang dari kota Tinalan. Di desa Plosokidul paguyuban tersebut hanya mengontrak selama 6 bulan, setelah itu paguyuban tersebut akan berpindah tempat ke tempat lain. (Pak Wahyu)
Berita Oleh: Sri Diyana

Jumat, 10 Mei 2013


Sakit Kambuh, Di Sangka Warga Kesurupan

NGANCAR – warga Desa Kunjang Dusun Sindurejo Kecamatan Ngancar  Kabupaten Kediri pagi-pagi  sudah dihebohkan oleh seorang anak yang di sangka kesurupan. Warga juga sempat berinisiatif  memanggil paranormal yang bisa mengusir roh ghoib dari tubuh bocah tersebut.
Seorang anak berusia sekitar 14 tahun yang duduk di bangku SMP  klas 2, mempunyai penyakit lama yang kemarin selasa 9 april 2013 pukul  23.30 sempat di hebohkan warga sekitar  rumahnya. Yahya Dwi  Sulistiono ( 14 tahun  ) berteriak-teriak di malam hari dengan  tubuh yang  mengejang. Suyitno ( 43 TAHUN )  sebagai  ayah Yahya sontak  kaget dan mencari sumber suara tersebut. Suyitno ( 43 TAHUN )  yang  mendapati anaknya di dalam kamar dengan keadaan  tubuh yang mengejang langsung merangkul anaknya dengan mimik  wajah yang sangat khawatir.
Teriakan Yahya mereda sampai akhirnya  rabu  pagi pukul  07.00 warga menggotongnya ke rumah sakit. Dari keterangan warga setempat yaitu Heru ( 40 tahun ), anak itu mempunyai penyakit Tetanus Dalam  kata ayahnya. Dulu anak itu pernah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan penyakit tersebut dan tadi malam penyakit itu kambuh bukan kesurupan, ujar Heru  ( 40 TAHUN ) tetangga depan rumah yahya.
Berita oleh: Ina Mahfufah

Berkebun Sambil Menikmati Manfaat Tanaman Kopi
Menanam kopi merupakan salah satu kegiatan sehari-hari di Desa Satak, Kecamatan Puncu, Jawa Timur. Kopi yang kemudian akan diolah menjadi kopi bubuk yang beraroma kahas. Selain biji kopi yang selama ini menjadi bahan utama untuk membuat minuman kopi, warga Desa Satak dengan Mahasiswa KKN UNP Kediri , Rabu 24 April 2013, pukul 09.00 WIB ( pagi hari) melakukan uji coba bahwa kopi tidak hanya bijinya saja yang bermanfaat untuk disedu, tetapi daun kopi (teh daun kopi) pun juga mimiliki sejuta manfaat yaitu dapat menurunkan resiko penyakit jantung dan deabetes.
Teh daun kopi memiliki kandungan kafein yang sedikit dari pada kafein yang terdapat dalam kopi atau teh. Selain itu teh daun kopi mengandung anti dioksidan tinggi yang mampu menjaga daya tahan tubuh. Mampu menurunkan hipertensi dan melancarkan saluran pernafasan.
Cara membuat teh daun kopi terbilang unik. Sebelum diseduh, daun kopi ditusuk seperti sate dan dibakar agar kandungan airnya hilang. Setelah kering dan gosong, lalu dijadikan remahan kecil dengan meremasnya. Setelah menjadi serpihan, lalu dimasukkan pada teko dan dituangkan air panas.
Feature Oleh: Fitri Ariani


KEDIRI MEMPRIHATINKAN

Rumah yang ada dibelakang saya adalah rumah yang didalamnya terdapat kehidupan yang cukup memprihatinkan. Kami sengaja mengambil gambar di pagi hari dalam keadaan seluruh penghuni masih terlelap.
Program KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang dilaksanakan di Ds. Ngancar Dsn. Panceran Kec. Wates. Salah satu program yang dilakukan mahasiswa KKN adalah program penyuluhan kerumah-rumah warga. Pada hari Senin, 08 April 2013 tepat pada pukul 09.00 WIB mahasiswa KKN mulai melaksanakan program penyuluhan tersebut. Ada satu rumah warga yang menjadi incaran kami, rumahnya cukup unik dan dikelilingi pohon-pohon besar dan rumahnya masih terbuat dari kayu.
Perlahan kaki kami membawa kami kepekarangan rumah tersebut, meskipun sedikit kejanggalan mulai dapat kami rasakan, dan disitulah kami ingin tahu kejanggalan apa yang terjadi di rumah tersebut.Perempuan paruh baya keluar dari rumah tersebut. Setelah kami menemui salah satu penghuni rumah tersebut mulailah kami sedikit berbincang-bincang mengenai kesehariannya dirumah.
Disinilah kami mendapat jawaban tentang kejanggalan-kejanggalan yang kami rasakan. Dari pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan tidak satupun jawaban yang ia berikan sesuai dengan pertanyaan, tidak lama kemudian datang seorang laki-laki yang berbadan besar dengan rambut terurai panjang, wajah yang dipenuhi bulu, berpakaian yang tidak layak dipakai dan dengan pandangan yang cukup menakutkan bagi saya khususnya.
Tanpa berpikir panjang saya langsung lari meninggalkan teman-teman keluar dari rumah tersebut tanpa mengucapkan satu katapun. Tidak lama teman-teman keluar dari rumah unik tersebut, dan disinilah kami menyimpulkan bahwa penghuni rumah tersebut mengidap gangguan mental.
Setelah kejadian itu kami baru mencari info mengenai hal-hal itu kepada warga sekitar, dan ternyata dibenarkan anggapan kami tentang satu keluarga yang mengidap gangguan mental. Bahkan warga yang rumahnya berdekatan sudah meninggalkan kediamannya karena mereka merasa tidak aman dan tidak nyaman hidup disitu. Menurut info yang saya dapat salah satu dari mereka (pengidap gangguan mental) pernah hampir membunuh saudaranya sendiri. (Ifa Nurjanah)
Feature Oleh: Ifa Nurjanah

LOMBA PERINGATAN HARI KARTINI
DI DESA BEDALI. KEC.NGANCAR  KAB. WATES

Banyak cara dilakukan untuk memperingati Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April. Mulai dari upacara, pameran pakaian dan lain sebagainya selalu menghiasi peringatan Hari Kartini.

Warga Desa Bedali  juga berencana akan memperingati Hari Kartini. Namun, peringatannya berbeda dari yang lain. Warga Desa Bedali mengadakan lomba kreasi jilbab, merangkai bunga dan lomba mewarnai.

“Kita rencananya akan mengadakan lomba
kreasi jilbab dan merangaki bunga serta lomba mewarnai untuk  memperingati hari kartini. Rencananya peringatan Hari Kartini akan digelar oleh Warga Desa bedali Rabu (17/4/2013) di kelurahan dan  pada Minggu (21/4/2013) di SDN sekitar desa yaitu SDN Bedali IV dan SDN Bedali VI.” kata Kepala desa Wahyono, Selasa (16/4/2013).

Untuk lomba merangkai bunga dan kreasi jilbab peserta yang akan mengikuti adalah ibu – ibu PKK  Desa Bedali, sedangkan untuk lomba mewarnai adalah anak – anak SD.
Dalam perlombaan tersebut,
kata Wahyono tidak hanya sekadar perlombaan biasa saja. Tetapi sebagai ajang untuk mengembangkan kreatifitas ibu – ibu dalan merangkai bunga dan memakai jilbab, sedangakn untuk anak – anak dapat melatih kreatifitas dalam mewarnai sebuah gambar. Untuk rangakian bunga,kreasi jilbab dan hasil mewarnai dinilai oleh juri dengan kriteria yang paling bagus, rapi, menarik maka akan didaulat menjadi pemenangnya.

Ia berharap kegiatan tersebut akan terlaksana dengan baik. Peringatan Hari Kartini tidak hanya sekadar memperingati saja. Akan tetapi
, sebagai ajang untuk mengasah kemampuan, yang  kelak dapat bermanfaat. Perjuangan kaum perempuan yang disebut dengan emansipasi layak dijadikan contoh dan tauladan yang baik.

Penulis : Dwi Ningrum H
Sumber : Kepala Desa: Pak Wahyono

Longsor Akibatkan Saluran Air Terhambat
Kamis 18 April 2013, hujan deras yang disertai angin kencang yang mengakibatkan longsor di Desa Satak, Kecamatan Puncu, Jawa Timur sehingga saluran air yang selama ini menjadi sumber kehidupan bagi warga Desa Satak menjadi terganggu.
Menurut warga di sekitar kejadian, longsor terjadi pada pukul 14.30 (sore hari). Saat itu pipa saluran air tertimpa oleh pohon besar. Sehingga warga dan beberapa anggota KKN UNP Kediri yang kebetulan menjalankan Kuliah Kerja Nyata di Desa Satak ikut membantu menyambung pipa saluran air ,agar warga Desa Satak bisa kembali mendapatkan air dengan lancar. Karena sudah lima hari berturut turut warga Desa Satak resah kekurangan air.
 Menurut Bapak Waloyo salah satu warga Desa Satak mengatakan bahwa saat longsor terjadi tidak ada satupun korban, karena letaknya jauh dari pemukiman. Warga Desa Satak berharap agar saluran air segera tersambung, karena peranan air sangat penting untuk kegiatan sehari-hari terutama Desa Satak yang sebagian penduduknya petani dan peternak.
Berita oleh: Fitri Ariani

Kekeramatan Sumber Pandanwangi

Sumber Pandanwangi, sebuah sumber mata air yang terletak di desa Sumberagung, dusun Sumberagung, kecamatan Plosoklaten, kabupaten Kediri dikenal keramat bagi masyarakat Sumberagung. Menurut narasumber Pak Sumarto seorang tukang pijet, sumber Pandanwangi telah ada sejak beliau lahir dan sekarang berumur kurang lebih 95 tahun. Sumber Pandanwangi ditemukan oleh dua orang leluhur atau penguasa yaitu Raden Ajeng Segati dan Seno Wasiso. Nama “Pandanwangi” berasal dari pemberian kedua leluhur tersebut.
Keberadaan sumber Pandanwangi sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar yang mayoritas bermatapencaharian sebagai petani. Manfaat sumber tersebut digunakan untuk pengairan persawahan atau lahan pertanian.
 Sumber Pandanwangi juga memiliki nilai mistis sehingga masyarakat menganggap sumber tersebut sebagai sumber keramat. Narasumber menyebutkan masih ada kejadian-kejadian atau peristiwa mistis atau hal-hal yang sakral di tempat tersebut. Salah satu bukti kesakralan sumber adalah lokasi sumber berada di pelataran tanah kering dan terbuka. Kekeramatan sumber Pandanwangi juga tampak apabila masyarakat berkunjung ke sumber ada pantangan atau larangan-larangan atau hal-hal yang harus dihindari oleh pengunjung yaitu, perempuan tidak boleh berpakaian atau memakai baju berwarna hijau asli dan jika mengetahui ada sarang “tawon locok” tidak boleh diusik atau diganggu apalagi dirusak karena menurut kepercayaan masyarakat, orang yang melanggar pantangan akan mendapat celaka.
Menurut narasumber ada ritual tertentu yang harus dilakukan oleh masyarakat setempat. Ritual tersebut sudah dilakukan sejak Kepala Desa dipangku oleh bapak Wiryo Sastro sampai saat ini. Acara ritual dilakukan setiap tahun pada hari Jumat Legi bulan Oktober. Wujud ritual seperti tumpengan dan berbabagai macam acara hiburan. Ritual diadakan sebagai tanda untuk mengucapkan rasa syukur kepada leluhur atau penguasa yang bermukim di Sumber Pandanwangi.
Berita Oleh: Dwi Cahyaning Wulan


Antre BBM Kendaraan Mengular Sepanjang Jalan
Sumberagung-Plosoklaten-Kab. Kediri. Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) semkin parah. Untuk mendapatkan BBM seperti solar dan premium para pembeli khususnya roda dua dan roda empat terpaksa antre berjam-jam di SPBU Sumberagung, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, Jumat (26/4).
Ada sopir truk yang terpaksa tidur di dalam truk agar antreannya tidak diserobot oleh kendaraan lain. Antrean yang terjadi di SPBU Sumberagung tidak hanya dipenuhi oleh kendaraan roda empat namun juga kendaraan roda dua.
Berita Oleh: Dwi Cahyaning Wulan

MAKAM MBAH AGENG


Bangunan yang selintas mirip rumah di atas sejatinya merupakan makam mbah Ageng Mangli yang letaknya di Desa Manggis Ngancar Kabupaten Kediri. Rumah ini hanya berisi sebuah makam saja. Makam ini dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai tempat yang membawa berkah. Tempat ini sering dijadikan sebagai tempat sadranan oleh masyarakat sekitar maupun luar wilayah Desa Manggis.
Mbah Toegiman(83th) adalah juru kunci dari makam Mbah Ageng. Menurut masyarakat sekitar mbah Ageng dipercaya sebagi orang yang berpengaruh dari Dusun Sumber Urip Desa Manggis Kec. Ngancar Kab. Kediri. Sebagai tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat sekitar, makam mbah Ageng tak pernah sepi dari Ziarah para orang-orang yang mempercayainya. Tempat ini sering digunakan sebagai tempat sadranan oleh masyarakat ketika ada hajad yang akan dilaksanakan. Biasanya mereka membawa nasi berkat yang sering disebut ambengan oleh masyarakat sekitar. Hajad mereka macam-macam, ada hajad mau khitanan, nikahan dan apa saja. Mereka datang untuk berdoa dan tahlilan bersama-sama dengan keluarganya yang didampingi oleh sang juru kunci sendiri. Adapula orang mengalami kesusahan atau terjadi musibah, kemudian melakukan doa di makam tersebut sehingga lancer urusannya.
            Bukan hanya masyarakat sekitar saja yang datang ke mbah Ageng, banyak juga dari luar wilayah yang datang ke tempat tersebut. Tiap malam jumat Legi yang paling banyak orangnya atau malam jumat yang lain juga sering datang. Tergantung kebutuhan masing-masing. Makam tersebut terletak di tengah-tengah perkebunan tebu milik Pabrik Ngadirejo. Makam berbentuk rumah yang terdiri dari dua kamar dan ada pohon beringin yang besar di depan rumah. Meskipun jauh dari pemukiman namun tidak terkesan horror seperti tempat-tempat yang dikeramatkan lainnya.
            Menurut Mbah Toegiman, mbah Ageng adalah sosok seorang pejuang pada masa kolonial Belanda dulu, beliau adalah salah satu dari Laskar Diponegoro. Dulunya beliau lari dari kejaran penjajah. Di Desa Jagul, terdapat dua makam satu laki-laki dan perempuan, makam tersebut yang perempuan adalah istri dari mbah Ageng sedangkan makam satunya hanya berisi tikar dan bantal dan diakukan sebagai makam mbah Ageng. Makam tersebut bertujuan agar disangka Mbah Ageng sudah meninggal bersama istrinya untuk mengelabui musuh. Kemudian Mbah Ageng melanjutkan pelariannya dan beliau akhirnya mennggal di Dusun Sumber Urip di Desa Manggis. Beliau juga merupkan ulama yang membawa ajaran agama islam ke desa tersebut.
            Mbah Toegiman ketika sebelum menjadi juru kunci beliau bermimipi untuk menjaga makam tersebut, akhirnya sampai sekarang beliaulah yang menjadi penjaga tempat tersebut. Beliau bertugas menemani orang yang berziarah dan membersihkan tempat tersebut.

Feature Oleh: Friska Faradilla

MASAK MEMASAK BERSAMA KKN UNP 2013

Ngancar, Kediri, 8 April 2013, pelaksanaan kegiatan masak memasak Mahasiswa kelompok 8 KKN UNP Kediri yang didanai oleh masing-masing mahasiswa dalam rangka program individu dilaksanakan di Balai Desa Manggis Kec. Ngancar Kab. Kediri. Pelaksanaan dimulai Pukul 09.00-12.00 WIB. acara ini dihadiri oleh semua anggota PKK dari desa Manggis.
            Manggis merupakan desa yang terbagi menjadi lima dusun, salah satunya adalah Dusun Sumber Urip yang digunakan sebagai posko kelompok 8 KKN UNP Kediri. Salah satu agenda dalam pelaksanaan KKN ini, para mahasiswa putri mengadakan acara ketrampilan memasak. Hal ini juga merupakan usulan dari ibu-ibu sendiri. Mayoritas ibu-ibu memang menyukai acara memasak. Acara seperti ini memang baru kali pertama dilaksanakan, ujar salah satu ibu yang hadir. Ibu yang hadir berjumlah 39 orang, ketrampilan memamasaknya ada 7 menu dan 1 ketrampilan menghias toples dengan kain flannel.
            Pelaksanaan dibuat per stan memasak, ada masakan bolu kukus isi nanas, bolu kukus abon, jamur krispi, kacang coklat, pastel isi abon dan pembuatan jahe instan bubuk dan es sarang burung. Antusias ibu-ibu sangat memuaskan sehingga dari pihak mahasiswa sendiri sangat bersemangat. Setiap masakan yang matang langsung habis tidak tersisa di meja saji, karena banyaknya yang hadir kemungkinan takut tidak kebagian.
            Jamur krispi yang paling cepat selesainya karena pembuatannya tidak memakan waktu yang lama, kedua pastel dan yang terakhir adalah bolu kukus. Meskipun dari bolu kukus yang isi abon tidak bisa mengembang namun justru membuat ibu-ibu penasaran apa yang menyebabkan kegagalan adonan, hal ini merupakan ilmu baru bagi saya, tukas salah satu ibu yang sering sekali membuat kue semacam itu. Ibu-ibu juga tidak segan mengajari atau memberikan saran kurang ini atau kurang itu dalam pembuatannya. Keramahan mereka membuat kami dari pihak mahasiswa merasa tidak sungkan untuk saling bersenda gurau.
            Tepat pukul 12.00 WIB acara selesai. Kami membersihkan kembali tempat yang telah kami pakai seperti semula. Dan kembali ke posko dengan perasaan senang karena satu program telah selesai dilaksanakan.

Berita Oleh: Friska Faradilla

Jumat, 03 Mei 2013



Buruh Rosok Pengelupas Tutup Aqua yang Mampu Menguliahkan Anaknya Sampai S1


Wajahnya selalu tampak gembira, tak pernah ia  terlihat perasaan sedih. Senyum ramah dan wajah riang selalu ia perlihatkan kepada semua orang. Tak pernah ia meminta belaskasihan kepada orang lain. Hari-harinya ia jalani dengan penuh semangat. Tak pernah ia mengeluh apalagi berputus asa. Ia selalu menjalankan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh, meskipun banyak orang mengatakan pekerjaan itu sangat rendah. Bagi ia apapun pekerjaannya, harus selalu dijalankan dengan sebaik mungkin.
Ya inilah sekilas sosok Suminah yang bekerja sebagai pengelupas tutup aqua di Desa Bedali Kec. Ngancar Wates. Suminah adalah seorang ibu berumur 64 tahun yang mempunyai 4 orang anak. Keempat anaknya adalah Khalida, Rozaq, Habibah dan Rowi. Adapun suami dari Suminah adalah Wawan, yang sudah meninggal 10 tahun menderita penyakit jantung.
Suminah rela menjadi pekerja rosok demi mencukupi semua kebutuhan hidup keluarganya. Mulai dari makanan yang dimakan setiap harinya, biaya untuk beli pakaian, biaya untuk sekolah keempat anaknya, dll,  semuanya ditanggung oleh Suminah. Walaupun penghasilan yang di dapat oleh Suminah tiap harinya tak seberapa.
Suminah bekerja di sebuah rosok milik Bu Nuur yang ada di Ngancar. Setiap hari, Suminahi harus menempuh jarak 4 kilometer dengan berjalan kaki untuk sampai ketempat bekerjanya. Biasanya Suminah berangkat kerja dari rumah jam 07.00 WIB, sampai tempat bekerjanya sekitar jam 08.00 WIB. Sehingga untuk menempuh jarak 4 kilometer, Suminah harus menggunakan waktunya kurang lebih satu jam.
Suminah pulang dari tempat bekerjanya sekitar jam 17.30 WIB. Sesampainya dirumah, kadang Suminah tidak langsung istirahat, melainkan mencari tambahan uang untuk memenuhi kebutuhannya. Pekerjaan dirumah tidak tetap, kadang Suminah ikut buruh sebagai pengelupas buah nanas di rumah produksi nanas milik Pak Narko.
Pekerjaan Suminah yang dapat dikatakan tetap adalah bekerja di rosok. Suminah bekerja dirosok mulai tahun 1987, hingga sekarang tahun 2013, Suminah pun masih bekerja di rosok tersebut. Sehingga Suminah bekerja di rosok dengan mengelupasi tutup aqua kurang lebih sudah 26 tahun.
Suminah mendapatkan bayaran sesuai dengan jumlah aqua yang sudah dikelupas. Satu kilo aqua dihargai 900 rupiah. Sehingga setiap harinya Suminah bisa mengelupasi  kurang lebih 15 kilo aqua. Ketika stok aqua habis, kadang Suminah mengerjakan pekerjaan yang lain seperti mecah ember, memisahkan bahan putihan dan bahan yang hitam.
Dengan bayaran yang tak seberapa, tetapi Suminah mampu menyekolahkan anak-anaknya. Anak yang pertama sampai ketiga semuanya lulus SMP dan sekarang Suminah sedang menyekolahkan anaknya yang terakhir kejenjang Strata Satu(S1). Suminah menginginkan anak terakhirnya yang bernama Rowi bisa sukses seperti orang-orang yang sudah berhasil.
“Opo ae arep tak lakoni mbak, gawe nyekolahke anakku, supoyo dadi wong sing pinter, sukses, uga manut karo wong tuwo” itu adalah sedikit penggalan kata-kata dari Suminah. Suminah selalu bekerja keras demi menyekolahkan anaknya, khususnya Rowi.
Sekarang ini Rowi menjadi harapan Suminah satu-satunya, untuk menjadi anak yang berhasil. Karena kelak Rowi yang akan mengurus Suminah. “Sakniki kulo mung due pangarep-arep kaleh Rowi supoyo dadi wong sukses, ugo biso ngopeni wong tuwone, amergo kakang-kakangne wis do nduwe gawe dewe-dewe”, begitulah kata Suminah.
Begitu besar Suminah menaruh harapan kepada Rowi agar menjadi orang yang sukses. Karena menurut Suminah, jika anaknya sukses, hidupnya dimasa tua pun menjadi enak. Budaya didesanya pun masih dipegang teguh oleh Sumarmi. Menurut budayanya anak terakhirlah yang kelak akan mewarisi rumahnya. Selain itu anak terakhirlah yang kelak akan merawat orang tuanya semasa tua nanti.
“Kulo seneng, amergo sakniki kulo saget nyekolahke anak kulo sing terakhir”, kata Suminah. Walaupun Suminah hanya menjadi pekerja rosok, ia tetap bangga, tak merasa malu dengan pekerjaannya. Bagi Suminah apapun pekerjaannya, yang penting halal , barokah dan menjadi manfaat untuk keluarganya.

Feature Oleh: Ida Ani'matillah