Rabu, 03 Juli 2013

kunjungan ke radar



Menggapai Pengalaman di Radar Kediri



Kediri – Mahasiswa UNP Kediri Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia mengadakan kunjungan ke Radar Kediri, Kamis (27/6). Letak Radar Kediri tak jauh dari hiruk pikuk jalan raya besar menuju kota Surabaya dan lebih jelasnya terletak di Jalan Raya Gampeng no. 45.  Kunjungan dilakukan bertepatan dengan momentum dalam rangka memenuhi program mata kuliah praktek jurnalistik sekaligus mendapatkan pengalaman dan ilmu jurnalistik.


Rombongan tiba sekitar pkl. 16.00 WIB. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju lantai 2 dan measuki sebuah ruangan yang tampak bersih, bercat putih, berAC, kursi tertata rapi tampaknya ruangan ini menyerupai aula pertemuan. Di sanalah kami mendapatkan ilmu mengenai jurnalisme dan seputar Radar Kediri. Keberadaan kami disambut penuh hangat oleh pimpinan redaksi yaitu bapak Tauhid beserta staff yang lain. Beliau menjelaskan beberapa penjelasan penting mengenai Jurnalisme antara lain, sejarah singkat surat kabar dan macam-macam media massa. Penjelasan beliau dibantu dengan LCD proyektor sehingga menambah  antusias  para mahasiswa. Candaan dan gurauan menjadi bumbu pelengkap agar suasana tak terasa membosankan. Berakhir sudah penjelasan beliau tentang jurnalisme. Namun, ini belum berakhir sepenuhnya. Selanjutnya, Pak Haris menyempatkan diri untuk menjelaskan secara sekilas seputar Radar Kediri. Radar kediri merupakan group dari koran nasional Jawa Pos. Radar kediri telah hadir sejak 12 juli 1999. Jadi, tahun ini Radar Kediri akan menapaki usia 14 tahun. Diakhir penjelasan beliau mengucapkan “ Untuk lebih jelasnya adik-adik bisa melihat langsung proses pengolahan beritanya karena kalau dijelaskan secara langsung kurang enak”, tegasnya. Jadi, intinya beliau mempersilakan kepada para mahasiswa untuk melihat  proses pengolahan berita di ruang redaksi agar tahu secara langsung aktifitas di dalamnya.
Selanjutnya kami bergegas turun ke lantai 2 menuju ruang redaksi. Sampai di depan ruang redaksi kami disambut oleh salah satu wartawan foto. Dia mempersilakan kami untuk masuk bergantian ke ruang redaksi. Di ruang redaksi terlihat beberapa aktifitas yang menarik. Tampak terlihat para jurnalis dengan penuh kesungguhan mengolah berita di depan perangkat komputer. Para jurnalis mengolah berita berdasarkan tema-tema yang berbeda-beda. Ada politik, ekonomi, olah raga dan masih banyak lagi. Aktifitas yang dilakukan adalah bagian dari proses pembuatan sebuah layout berita yang telah diolah oleh para reporter dan fotografer sebelum menuju proses pencetakan. Tidak puas mata ini hanya dengan waktu kunjungan yang terbatas. Rasa puas hati akan terobati jika suatu saat nanti mengulang berkunjung ke Radar Kediri  koran kebanggaan masyarakat Kediri.

Feature oleh : Dwi Cahyaning Wulan (27 Juni 2013)

Senin, 01 Juli 2013

Kuliner Jogja



SATE KERE KULINER KHAS JOGJA

 Sejak puluhan tahun lalu masyarakat kecil Kota Yogyakarta dan sekitarnya menggemari makanan beraroma khas 'Sate Kere' dan hingga saat ini sate yang terbuat dari lemak sapi ini tetap menjadi primadona masyarakat terutama pada perayaan pesta rakyat seperti Sekaten maupun Lebaran."Saya berjualan 'sate kere' ini sudah sekitar sepuluh tahun, dan hanya meneruskan usaha orang tua saya," kata Warsi (45), warga Jagalan Beji, Pakualaman, Kota Yogyakarta yang berjualan di depan pintu gerbang pasar Beringharjo, Yogyakarta, beberapa waktu lalu. Menurut dia, 'sate kere' sampai saat ini sangat digemari masyarakat khususnya masyarakat dari tingkat menengah ke bawah."Dalam sehari biasanya saya menghabiskan sekitar lima kilogram lemak sapi untuk membuat sate," katanya.
Ia mengatakan, nama 'sate kere' juga berasal dari sebutan masyarakat karena sate dengan jenis ini paling banyak digemari oleh masyarakat 'kere' (miskin) sehingga kemudian banyak yang menyebut dengan 'sate kere'."Menurut cerita orang tua saya, dulu orang hanya menyebut dengan sate 'gajih' (lemak) namun karena yang membeli banyak dari masyarakat kecil maka kemudian sate ini terkenal dengan sebutan 'sate kere'," ungkapnya.
Sate ini sekilas bentuknya sama dengan sate kambing atau sate sapi yang berupa beberapa irisan daging yang ditusuk dengan lidi. Bedanya pada 'sate kere', potongan daging diganti dengan lemak sapi dan baru kemudian dibakar."Sate ini harganya lebih murah dibandingkan sate kambing atau sate sapi karena hanya berisi lemak sapi dan tidak ada dagingnya," jelasnya.
Ia mengatakan, berjualan 'sate kere' cukup menguntungkan karena setiap lima kilogram lemak sapi ia hanya membutuhkan modal Rp60 ribu dan setelah terjual habis biasanya ia akan mendapatkan uang sekitar Rp150 ribu atau mendapat untung bersih Rp90 ribu. Selain  di pintu masuk sisi selatan pasar Beringharjo, Sate kere juga dapat dijumpai di  alun-alun Sewandanan, Pakualanan, Yogyakarta, 'sate kere' juga dapat dijumpai dan di alun-alun utara Kraton Yogyakarta. 

Feature Oleh : Fitria Nuris Sholikah (09.1.01.07.0069)

Kunjungan Ke Koran Kedaulatan Rakyat

MENGENAL LEBIH DEKAT KEDAULATAN RAKYAT

Kegiatan kami saat pertama kali dikumpulkan di kantor KR adalah mendapatkan penjelasan mengenai sejarah Koran Kedaulatan Rakyat , Kegiatan Operasionalnya , dan  mengenai hal menarik seputar Kedaulatan Rakyat . Diterangkan oleh Ibu Suci VRP dan ditemani Bapak Iswantoro selaku wartawan di KR kami mulai dijelaskan mengenai KR . Pertama mengenai sejarah KR yang tadinya merupakan koran yang ditangani Jepang , kemudian diambil oleh pemuda-pemuda Indonesia. Kedaulatan Rakyat (KR), didirikan H. Samawi dan H Soemadi Martono Wonohito, adalah surat kabar harian yang terbit di Yogyakarta. KR terbit sejak 27 September 1945. Perusahaan surat kabar KR dipimpin oleh H. Soemadi M. Wonohito.
Semboyan KR adalah Suara Hati Nurani Rakyat. Terbit pertamakali pada tanggal 27 september 1945 , merupakan Koran ke 2 setelah Koran dengan bahasa jawa yang bernama “Sedya Tama” yang terbit 2 minggu sekali. Saat koran Sedya tama dibredel oleh tentara pendudukan jepang, kemudian tentara Jepang mendirikan percetakan dan menerbitkan Koran Sinar Matahari. Didorong keinginan menerbitkan Koran sendiri oleh Pemerintah Indonesia maka koran sinar matahari yang berkaryawan orang Indonesia, atas gagasan H. Samawi dan H Madikin Wonohito maka berdirilah percetakan dan harian Kedaulatan Rakyat ini. Nama harian “Kedaulatan Rakyat” diambil dari UUD 1945 alinea 4.
Koran merupakan media yang paling cepat digunakan untuk mengakses berita, itupun masih menggunakan mesin ketik. Koran KR memiliki harga relatif murah , karena ini merupakan koran lokal yang merakyat .Pada era globalisasi yang semuanya sudah berubah menjadi canggih ini menuntut semuanya serba cepat dan makin mutakhir. Koran sudah tidak diminati lagi, karena orang-orang lebih senang mengakses berita melalui internet . Sekarang jasa website online-news semakin merebak . Bahkan KR sendiri memiliki situs online, untuk dapat dibaca para pencermat berita yaitu Kedaulatan Rakyat News. Ibu Suci juga bercerita“ Bahkan di luar negeri, koran sudah tidak ada lagi dan mereka sudah menjadi negara digital.Semua sudah berubah dalam bentuk digital yang diakses melalui online-news. Biasanya koran dibagikan gratis di bandara-bandara,terminal dan stasiun secara gratis. Tapi beruntungnya di Indonesia, koran masih dijual dan banyak pembacanya”,tuturnya saat penjelasan Kunjungan Perusahaan. Kedaulatan Rakyat sendiri , mulai beroperasi mencetak koran-korannya saat malam hari, karena mungkin begitulah prosedur dari perusahaan. Jadi saat kami berkunjung ke sana mereka sedang tidak memulai proses produksinya .
Saat tiba di pabrik pembuatannya , kami dijelaskan oleh Wakil Kepala Bagian Percetakan yakni bapak Budi  mengenai cara-cara mesin bekerja dan bagaimana membuat gulungan-gulungan kertas sehingga menjadi lembaran-lembaran koran.Beliau menjelaskan jika pertama yang harus dilakukan meyiapkan gulungan kertas tipis , yang memang khusus untuk membuat koran .Harga kertas tersebut bernilai 1 juta rupiah lebih per gulungnya . Setelah itu kertas itu kertas ditaruh di mesin cetak, lalu gambar desain koran yang sudah didesain sebelumnya di komputer diprint , kemudian baru dipotong-potong dan dirapikan, dilipat menjadi sebuah koran. Dalam pemasangannya tidak mungkin terbalik, karena tadi sebelumnya sudah diberi nomor –nomor halaman yang menyebabkan tidak terjadinya kekeliruan. Setelah itu jadilah bereksemplar-eksemplar  koran yang siap untuk dijual. KR dijual Rp. 3000 per bijinya . KR mendapatkan keuntungan terbesar dari iklan-iklan yang dipasang disana, profit yang didapatkan 2500 rupiah per korannya. Setiap hari, KR mencetak sekitar 100.000 eksemplar yang didistribusikan ke Yogyakarta dan Jawa tengah bagian selatan seperti di Magelang, Klaten,Solo, Kulon Progo, Purworejo,Gunung Kidul , dan dalam jumlah sedikit ke DKI Jakarta .

Feature Oleh : Fitria Nuris Sholikah (09.1.01.07.0069)