Jumat, 10 Mei 2013


LOMBA PERINGATAN HARI KARTINI
DI DESA BEDALI. KEC.NGANCAR  KAB. WATES

Banyak cara dilakukan untuk memperingati Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April. Mulai dari upacara, pameran pakaian dan lain sebagainya selalu menghiasi peringatan Hari Kartini.

Warga Desa Bedali  juga berencana akan memperingati Hari Kartini. Namun, peringatannya berbeda dari yang lain. Warga Desa Bedali mengadakan lomba kreasi jilbab, merangkai bunga dan lomba mewarnai.

“Kita rencananya akan mengadakan lomba
kreasi jilbab dan merangaki bunga serta lomba mewarnai untuk  memperingati hari kartini. Rencananya peringatan Hari Kartini akan digelar oleh Warga Desa bedali Rabu (17/4/2013) di kelurahan dan  pada Minggu (21/4/2013) di SDN sekitar desa yaitu SDN Bedali IV dan SDN Bedali VI.” kata Kepala desa Wahyono, Selasa (16/4/2013).

Untuk lomba merangkai bunga dan kreasi jilbab peserta yang akan mengikuti adalah ibu – ibu PKK  Desa Bedali, sedangkan untuk lomba mewarnai adalah anak – anak SD.
Dalam perlombaan tersebut,
kata Wahyono tidak hanya sekadar perlombaan biasa saja. Tetapi sebagai ajang untuk mengembangkan kreatifitas ibu – ibu dalan merangkai bunga dan memakai jilbab, sedangakn untuk anak – anak dapat melatih kreatifitas dalam mewarnai sebuah gambar. Untuk rangakian bunga,kreasi jilbab dan hasil mewarnai dinilai oleh juri dengan kriteria yang paling bagus, rapi, menarik maka akan didaulat menjadi pemenangnya.

Ia berharap kegiatan tersebut akan terlaksana dengan baik. Peringatan Hari Kartini tidak hanya sekadar memperingati saja. Akan tetapi
, sebagai ajang untuk mengasah kemampuan, yang  kelak dapat bermanfaat. Perjuangan kaum perempuan yang disebut dengan emansipasi layak dijadikan contoh dan tauladan yang baik.

Penulis : Dwi Ningrum H
Sumber : Kepala Desa: Pak Wahyono

Longsor Akibatkan Saluran Air Terhambat
Kamis 18 April 2013, hujan deras yang disertai angin kencang yang mengakibatkan longsor di Desa Satak, Kecamatan Puncu, Jawa Timur sehingga saluran air yang selama ini menjadi sumber kehidupan bagi warga Desa Satak menjadi terganggu.
Menurut warga di sekitar kejadian, longsor terjadi pada pukul 14.30 (sore hari). Saat itu pipa saluran air tertimpa oleh pohon besar. Sehingga warga dan beberapa anggota KKN UNP Kediri yang kebetulan menjalankan Kuliah Kerja Nyata di Desa Satak ikut membantu menyambung pipa saluran air ,agar warga Desa Satak bisa kembali mendapatkan air dengan lancar. Karena sudah lima hari berturut turut warga Desa Satak resah kekurangan air.
 Menurut Bapak Waloyo salah satu warga Desa Satak mengatakan bahwa saat longsor terjadi tidak ada satupun korban, karena letaknya jauh dari pemukiman. Warga Desa Satak berharap agar saluran air segera tersambung, karena peranan air sangat penting untuk kegiatan sehari-hari terutama Desa Satak yang sebagian penduduknya petani dan peternak.
Berita oleh: Fitri Ariani

Kekeramatan Sumber Pandanwangi

Sumber Pandanwangi, sebuah sumber mata air yang terletak di desa Sumberagung, dusun Sumberagung, kecamatan Plosoklaten, kabupaten Kediri dikenal keramat bagi masyarakat Sumberagung. Menurut narasumber Pak Sumarto seorang tukang pijet, sumber Pandanwangi telah ada sejak beliau lahir dan sekarang berumur kurang lebih 95 tahun. Sumber Pandanwangi ditemukan oleh dua orang leluhur atau penguasa yaitu Raden Ajeng Segati dan Seno Wasiso. Nama “Pandanwangi” berasal dari pemberian kedua leluhur tersebut.
Keberadaan sumber Pandanwangi sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar yang mayoritas bermatapencaharian sebagai petani. Manfaat sumber tersebut digunakan untuk pengairan persawahan atau lahan pertanian.
 Sumber Pandanwangi juga memiliki nilai mistis sehingga masyarakat menganggap sumber tersebut sebagai sumber keramat. Narasumber menyebutkan masih ada kejadian-kejadian atau peristiwa mistis atau hal-hal yang sakral di tempat tersebut. Salah satu bukti kesakralan sumber adalah lokasi sumber berada di pelataran tanah kering dan terbuka. Kekeramatan sumber Pandanwangi juga tampak apabila masyarakat berkunjung ke sumber ada pantangan atau larangan-larangan atau hal-hal yang harus dihindari oleh pengunjung yaitu, perempuan tidak boleh berpakaian atau memakai baju berwarna hijau asli dan jika mengetahui ada sarang “tawon locok” tidak boleh diusik atau diganggu apalagi dirusak karena menurut kepercayaan masyarakat, orang yang melanggar pantangan akan mendapat celaka.
Menurut narasumber ada ritual tertentu yang harus dilakukan oleh masyarakat setempat. Ritual tersebut sudah dilakukan sejak Kepala Desa dipangku oleh bapak Wiryo Sastro sampai saat ini. Acara ritual dilakukan setiap tahun pada hari Jumat Legi bulan Oktober. Wujud ritual seperti tumpengan dan berbabagai macam acara hiburan. Ritual diadakan sebagai tanda untuk mengucapkan rasa syukur kepada leluhur atau penguasa yang bermukim di Sumber Pandanwangi.
Berita Oleh: Dwi Cahyaning Wulan


Antre BBM Kendaraan Mengular Sepanjang Jalan
Sumberagung-Plosoklaten-Kab. Kediri. Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) semkin parah. Untuk mendapatkan BBM seperti solar dan premium para pembeli khususnya roda dua dan roda empat terpaksa antre berjam-jam di SPBU Sumberagung, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, Jumat (26/4).
Ada sopir truk yang terpaksa tidur di dalam truk agar antreannya tidak diserobot oleh kendaraan lain. Antrean yang terjadi di SPBU Sumberagung tidak hanya dipenuhi oleh kendaraan roda empat namun juga kendaraan roda dua.
Berita Oleh: Dwi Cahyaning Wulan

MAKAM MBAH AGENG


Bangunan yang selintas mirip rumah di atas sejatinya merupakan makam mbah Ageng Mangli yang letaknya di Desa Manggis Ngancar Kabupaten Kediri. Rumah ini hanya berisi sebuah makam saja. Makam ini dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai tempat yang membawa berkah. Tempat ini sering dijadikan sebagai tempat sadranan oleh masyarakat sekitar maupun luar wilayah Desa Manggis.
Mbah Toegiman(83th) adalah juru kunci dari makam Mbah Ageng. Menurut masyarakat sekitar mbah Ageng dipercaya sebagi orang yang berpengaruh dari Dusun Sumber Urip Desa Manggis Kec. Ngancar Kab. Kediri. Sebagai tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat sekitar, makam mbah Ageng tak pernah sepi dari Ziarah para orang-orang yang mempercayainya. Tempat ini sering digunakan sebagai tempat sadranan oleh masyarakat ketika ada hajad yang akan dilaksanakan. Biasanya mereka membawa nasi berkat yang sering disebut ambengan oleh masyarakat sekitar. Hajad mereka macam-macam, ada hajad mau khitanan, nikahan dan apa saja. Mereka datang untuk berdoa dan tahlilan bersama-sama dengan keluarganya yang didampingi oleh sang juru kunci sendiri. Adapula orang mengalami kesusahan atau terjadi musibah, kemudian melakukan doa di makam tersebut sehingga lancer urusannya.
            Bukan hanya masyarakat sekitar saja yang datang ke mbah Ageng, banyak juga dari luar wilayah yang datang ke tempat tersebut. Tiap malam jumat Legi yang paling banyak orangnya atau malam jumat yang lain juga sering datang. Tergantung kebutuhan masing-masing. Makam tersebut terletak di tengah-tengah perkebunan tebu milik Pabrik Ngadirejo. Makam berbentuk rumah yang terdiri dari dua kamar dan ada pohon beringin yang besar di depan rumah. Meskipun jauh dari pemukiman namun tidak terkesan horror seperti tempat-tempat yang dikeramatkan lainnya.
            Menurut Mbah Toegiman, mbah Ageng adalah sosok seorang pejuang pada masa kolonial Belanda dulu, beliau adalah salah satu dari Laskar Diponegoro. Dulunya beliau lari dari kejaran penjajah. Di Desa Jagul, terdapat dua makam satu laki-laki dan perempuan, makam tersebut yang perempuan adalah istri dari mbah Ageng sedangkan makam satunya hanya berisi tikar dan bantal dan diakukan sebagai makam mbah Ageng. Makam tersebut bertujuan agar disangka Mbah Ageng sudah meninggal bersama istrinya untuk mengelabui musuh. Kemudian Mbah Ageng melanjutkan pelariannya dan beliau akhirnya mennggal di Dusun Sumber Urip di Desa Manggis. Beliau juga merupkan ulama yang membawa ajaran agama islam ke desa tersebut.
            Mbah Toegiman ketika sebelum menjadi juru kunci beliau bermimipi untuk menjaga makam tersebut, akhirnya sampai sekarang beliaulah yang menjadi penjaga tempat tersebut. Beliau bertugas menemani orang yang berziarah dan membersihkan tempat tersebut.

Feature Oleh: Friska Faradilla

MASAK MEMASAK BERSAMA KKN UNP 2013

Ngancar, Kediri, 8 April 2013, pelaksanaan kegiatan masak memasak Mahasiswa kelompok 8 KKN UNP Kediri yang didanai oleh masing-masing mahasiswa dalam rangka program individu dilaksanakan di Balai Desa Manggis Kec. Ngancar Kab. Kediri. Pelaksanaan dimulai Pukul 09.00-12.00 WIB. acara ini dihadiri oleh semua anggota PKK dari desa Manggis.
            Manggis merupakan desa yang terbagi menjadi lima dusun, salah satunya adalah Dusun Sumber Urip yang digunakan sebagai posko kelompok 8 KKN UNP Kediri. Salah satu agenda dalam pelaksanaan KKN ini, para mahasiswa putri mengadakan acara ketrampilan memasak. Hal ini juga merupakan usulan dari ibu-ibu sendiri. Mayoritas ibu-ibu memang menyukai acara memasak. Acara seperti ini memang baru kali pertama dilaksanakan, ujar salah satu ibu yang hadir. Ibu yang hadir berjumlah 39 orang, ketrampilan memamasaknya ada 7 menu dan 1 ketrampilan menghias toples dengan kain flannel.
            Pelaksanaan dibuat per stan memasak, ada masakan bolu kukus isi nanas, bolu kukus abon, jamur krispi, kacang coklat, pastel isi abon dan pembuatan jahe instan bubuk dan es sarang burung. Antusias ibu-ibu sangat memuaskan sehingga dari pihak mahasiswa sendiri sangat bersemangat. Setiap masakan yang matang langsung habis tidak tersisa di meja saji, karena banyaknya yang hadir kemungkinan takut tidak kebagian.
            Jamur krispi yang paling cepat selesainya karena pembuatannya tidak memakan waktu yang lama, kedua pastel dan yang terakhir adalah bolu kukus. Meskipun dari bolu kukus yang isi abon tidak bisa mengembang namun justru membuat ibu-ibu penasaran apa yang menyebabkan kegagalan adonan, hal ini merupakan ilmu baru bagi saya, tukas salah satu ibu yang sering sekali membuat kue semacam itu. Ibu-ibu juga tidak segan mengajari atau memberikan saran kurang ini atau kurang itu dalam pembuatannya. Keramahan mereka membuat kami dari pihak mahasiswa merasa tidak sungkan untuk saling bersenda gurau.
            Tepat pukul 12.00 WIB acara selesai. Kami membersihkan kembali tempat yang telah kami pakai seperti semula. Dan kembali ke posko dengan perasaan senang karena satu program telah selesai dilaksanakan.

Berita Oleh: Friska Faradilla

Jumat, 03 Mei 2013



Buruh Rosok Pengelupas Tutup Aqua yang Mampu Menguliahkan Anaknya Sampai S1


Wajahnya selalu tampak gembira, tak pernah ia  terlihat perasaan sedih. Senyum ramah dan wajah riang selalu ia perlihatkan kepada semua orang. Tak pernah ia meminta belaskasihan kepada orang lain. Hari-harinya ia jalani dengan penuh semangat. Tak pernah ia mengeluh apalagi berputus asa. Ia selalu menjalankan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh, meskipun banyak orang mengatakan pekerjaan itu sangat rendah. Bagi ia apapun pekerjaannya, harus selalu dijalankan dengan sebaik mungkin.
Ya inilah sekilas sosok Suminah yang bekerja sebagai pengelupas tutup aqua di Desa Bedali Kec. Ngancar Wates. Suminah adalah seorang ibu berumur 64 tahun yang mempunyai 4 orang anak. Keempat anaknya adalah Khalida, Rozaq, Habibah dan Rowi. Adapun suami dari Suminah adalah Wawan, yang sudah meninggal 10 tahun menderita penyakit jantung.
Suminah rela menjadi pekerja rosok demi mencukupi semua kebutuhan hidup keluarganya. Mulai dari makanan yang dimakan setiap harinya, biaya untuk beli pakaian, biaya untuk sekolah keempat anaknya, dll,  semuanya ditanggung oleh Suminah. Walaupun penghasilan yang di dapat oleh Suminah tiap harinya tak seberapa.
Suminah bekerja di sebuah rosok milik Bu Nuur yang ada di Ngancar. Setiap hari, Suminahi harus menempuh jarak 4 kilometer dengan berjalan kaki untuk sampai ketempat bekerjanya. Biasanya Suminah berangkat kerja dari rumah jam 07.00 WIB, sampai tempat bekerjanya sekitar jam 08.00 WIB. Sehingga untuk menempuh jarak 4 kilometer, Suminah harus menggunakan waktunya kurang lebih satu jam.
Suminah pulang dari tempat bekerjanya sekitar jam 17.30 WIB. Sesampainya dirumah, kadang Suminah tidak langsung istirahat, melainkan mencari tambahan uang untuk memenuhi kebutuhannya. Pekerjaan dirumah tidak tetap, kadang Suminah ikut buruh sebagai pengelupas buah nanas di rumah produksi nanas milik Pak Narko.
Pekerjaan Suminah yang dapat dikatakan tetap adalah bekerja di rosok. Suminah bekerja dirosok mulai tahun 1987, hingga sekarang tahun 2013, Suminah pun masih bekerja di rosok tersebut. Sehingga Suminah bekerja di rosok dengan mengelupasi tutup aqua kurang lebih sudah 26 tahun.
Suminah mendapatkan bayaran sesuai dengan jumlah aqua yang sudah dikelupas. Satu kilo aqua dihargai 900 rupiah. Sehingga setiap harinya Suminah bisa mengelupasi  kurang lebih 15 kilo aqua. Ketika stok aqua habis, kadang Suminah mengerjakan pekerjaan yang lain seperti mecah ember, memisahkan bahan putihan dan bahan yang hitam.
Dengan bayaran yang tak seberapa, tetapi Suminah mampu menyekolahkan anak-anaknya. Anak yang pertama sampai ketiga semuanya lulus SMP dan sekarang Suminah sedang menyekolahkan anaknya yang terakhir kejenjang Strata Satu(S1). Suminah menginginkan anak terakhirnya yang bernama Rowi bisa sukses seperti orang-orang yang sudah berhasil.
“Opo ae arep tak lakoni mbak, gawe nyekolahke anakku, supoyo dadi wong sing pinter, sukses, uga manut karo wong tuwo” itu adalah sedikit penggalan kata-kata dari Suminah. Suminah selalu bekerja keras demi menyekolahkan anaknya, khususnya Rowi.
Sekarang ini Rowi menjadi harapan Suminah satu-satunya, untuk menjadi anak yang berhasil. Karena kelak Rowi yang akan mengurus Suminah. “Sakniki kulo mung due pangarep-arep kaleh Rowi supoyo dadi wong sukses, ugo biso ngopeni wong tuwone, amergo kakang-kakangne wis do nduwe gawe dewe-dewe”, begitulah kata Suminah.
Begitu besar Suminah menaruh harapan kepada Rowi agar menjadi orang yang sukses. Karena menurut Suminah, jika anaknya sukses, hidupnya dimasa tua pun menjadi enak. Budaya didesanya pun masih dipegang teguh oleh Sumarmi. Menurut budayanya anak terakhirlah yang kelak akan mewarisi rumahnya. Selain itu anak terakhirlah yang kelak akan merawat orang tuanya semasa tua nanti.
“Kulo seneng, amergo sakniki kulo saget nyekolahke anak kulo sing terakhir”, kata Suminah. Walaupun Suminah hanya menjadi pekerja rosok, ia tetap bangga, tak merasa malu dengan pekerjaannya. Bagi Suminah apapun pekerjaannya, yang penting halal , barokah dan menjadi manfaat untuk keluarganya.

Feature Oleh: Ida Ani'matillah